Ciloteh/ Oce E Satria
👣
Waktu SD aku dan Rizal Couto sering ikut mengisi acara malam kesenian. Kami menamainya Malam Gembira. Ini hiburan yang dihelat setahun sekali. Acaranya pada malam ketiga lebaran. Dua malam. Lebaran adalah saat tepat menggelar hiburan sekaligus menggalang dana. Karena banyak perantau pulang.
Malam gembira kali ini berupa pentas terbuka, di depan kantor wali nagari. Kebetulan aku dan beberapa teman ikut mengisi acara.
Jauh-jauh hari sebelum acara kami latihan dulu. Kali ini aku akan tampil sebagai dancer gerak dan nada. Ada empat orang. Laki-laki semua. Kalau gak salah, selain Rizal, ada Ondra dan Abrar. Gak ada perempuan, karena anak perempuan pada pemalu. Kami anak laki-laki adalah anak-anak yang tak tahu malu 🤣.
Pelatihnya uni-uni yang waktu itu sudah SMA. Saban malam kami latihan di rumah Kak Emar, yang saat itu sekolah di SMEA. Kami akan perform dengan lagu latar Rivers of Babylon dari album Boney M (1978). Durasinya paling-paling sekitar 10 menit. Tapi latihannya lama banget.
Pas hari H acara malam gembira, kami sudah siap-siap sejak magrib. Kami sudah didandani dengan celana dan kaos keren.😎 Casual. Wajah dibedaki dengan Viva No4, rambut diolesi Tanchow New 8, merek terkenal waktu itu selain Brisk dan Brylcream.
Kami lalu nongkrong di belakang panggung menunggu giliran. Tentu saja dengan jantung berdebar.
Sialnya waktu itu panitia kurang berperikemanusiaan. Kami bocah-bocah ingusan ini yang harusnya ditampilkan di awal-awal acara, tapi dibiarkan terlantar. Mereka, orang-orang dewasa itu asyik sendiri. Satu lagu dibawakan artis band (kalau nggak salah nama band-nya Band Tri Arga). Kami berharap usai artis band tampil, kami akan dipanggil naik pentas. Tapi rupanya belum juga. Setelah artis band kemudian beberapa artis lokal yang tampil. Empat bocah belum juga dilirik.
Belum cukup, usai acara hiburan dengan sederet lagu, panitia menggelar acara lelang kue. Kami makin tersisihkan. Seperti figuran yang nggak dianggap. 😥
Lelang kue adalah cara mengumpulkan dana dari penonton. Biasanya yang ikut adalah perantau-perantau yang saat itu mudik lebaran dan anak-anak muda dari luar kampung. Di lelang itu orang bisa meluapkan ekspresi dengan kata-kata melalui mulut MC, tapi tidak gratis. Kalau mau ikut sila angkat tangan sambil nyodorkan duit dan minta MC mengulang kata-kata yang diteriakkan.
🎤"Oooppss...Limo ribu koah. Tolong tukang pacik kue ganti jo si Meri... !" (bukan nama sebenarnya).
MC mengulangnya, lalu minta si Meri (biasanya seleb kampung atau artis band) naik ke panggung. Cewek sebelumnya pegang kue mundur. Si Meri, yang kece itu maju. Wajahnya manis, bodinya aduhai.
Kalau kita mau salaman sama si Meri, juga boleh. Tapi harus keluar duit dulu. Atau kalau mau menembak cewek yang ada di antara penonton, juga bisa diungkapkan lewat MC: "Wooooii...dari Pemuda simpang koah (nih).... Salam ka si Rita. Pai mangamek-ngamek sajo Rita kamari..? Moaleh ribu...!!!
MC mengulang kata-katanya. Intonasinya sama.
Dst dst.
Begitulah, lelang berlangsung sampai batas harga kue mendekati limit yang ditentukan dan diambil oleh yang mampu membayar sisa limit. Seingatku itu namanya lelang perancis. Kalau lelang amerika lain lagi, peserta lelang hanya saling menawar dengan tawaran tertinggi. Lebih cepat, tapi kurang menghibur.
Yang paling terkenal, selalu heboh, dan sering memenangkan lelang adalah anak-anak pedagang los ikan pasar Padangpanjang. Kelompok mereka bernama LOSIK alias Los Ikan. Ada lagi anak-anak dari Paninjauan dengan nama keren: PANBERS alias Paninjauan Bersaudara. Ada RARAK atau Remaja Remaja Aur Kuning, anak-anak terminal. R-KOPAN, dan lain-lain. Kelompok-kelompok ini biasanya memang rutin mendatangi acara malam hiburan di berbagai tempat. Mereka saling adu gengsi dan unjuk gigi. Bawa duit berlembar-lembar.
Sementara itu....
Empat bocah di sudut panggung sudah mencikukut kedinginan. Meratapi nasib. Terabaikan. Wajah sudah kuyu, mata sayu karena lelah. Terantuk-antuk ke dinding menahan kantuk. Pakaian sudah lusuh karena duduk dan berdiri tiap sebentar. Berharap kalau-kalau MC memanggil. Beberapa kali disuruh panitia makan dulu, kami menolak, meski perut sudah keroncongan. Kami khawatir terlewat.
Akhirnya, karena tak tega melihat wajah kami yang penuh harap, pelatih gerak nada kami membenar ke MC, "Tolong giliran adik-adik ini. Kasihan sudah dari magrib menunggu."
Teng, hampir jam satu dini hari MC memanggil kami untuk tampil. Yess.... ! Meski dengan perasaan jengkel dan badan lesu, kami bisa perform dengan prima. Meski penonton sebenarnya tidak terlalu peduli dan mengindahkan kami. Namun rasanya waktu itu kami merasa keren aja. Meski kesal tapi puas sudah tampil sebagai penari gerak dan nada. Meski tak ada bayarannya, sepeser pun. Tak sembarang anak bisa tampil. Apalagi, aku yakin si dia, cewek teman sekelas Rizal itu pasti ada di antara kerumunan penonton, menyaksikan lelakinya tampil.
Selesai tampil di panggung prestisius itu kami pulang. Ngantuk berat.
Kelak saat remaja jadi pengurus karang taruna aku selalu ikut jadi panitia dan merancang acara. Aku juga membuat naskah drama dua babak, membuat dan mendekor pentas. Kadang-kadang jadi MC lelang kue.
Dan umumnya panitia di mana-mana di kampung mana pun selalu ada kisah-kisah roman di seputar itu. Dari yang biasa-biasa saja sampai yang dramatis, asmara sesama panitia. Malam-malam usai latihan dan menyiapkan acara, ngantar cewek-cewek ke rumah mereka. Satu dua ada yang saling intai, pacaran. Ada juga sih yang akhirnya jadian sampai jadi sepasang anak daro dan marapulai.
Kadang-kadang itulah asyiknya jadi aktivis waktu muda. Belajar berorganisasi, berteman, dan melatih mental. Dan tentu saja memori indah yang tak terlupakan. Meski badung dan pacaran tapi tetap terkontrol. Jadi, kalau sekarang yang sudah jadi emak-emak dan bapak-bapak, jangan keki liat anak-anak muda asyik pacaran. Karena waktu muda sama aja. pasti bandel-bandel dan badung! 😁
(udah ahh....ngantuk)
Foto: ilustrasi/google
Kisah Berikutnya: Kenangan Masa Kecil (10): SMP KOTO LAWEH
Kisah Sebelumnya: Kenangan Masa Kecil (8): Meja Jagal Mantri Sunat
“Semuanya kelihatan tidak mungkin sampai segala sesuatu selesai.” - Nelson Mandela

Bagaimana kisah Anda?
Bagaimana kisah Anda?