Ciloteh/ Oce E Satria
AKU ingat ketika dulu usai Ebtanas SD, kami berebut menceritakan rencana berikutnya selepas SD. Saat itu rasanya kami naik kasta satu tingkat, dari kanak-kanak menjadi remaja yang boleh bicara soal cinta. Itu saja yang kami tahu tentang bagaimana menjadi pelajar SMP kelak. Pokoknya, pacaran adalah salah satu prasyarat menjadi remaja.
Sebetulnya level kedewasaan itu sudah mulai kami klaim sejak pusaka warisan nenek moyang kami dipotong mantri sunat. Bahkan untuk mengantar kami ke gerbang kedewasaan itu, bagi orangtua yang berkecukupan merayakannya dengan perhelatan yang tak kalah meriahnya dari pesta perkawinan. Di kampungku pesta sunatan namanya Alek Bakura, pesta merayakan khitanan, dengan menanggap saluang.
Sebelum prosesi pemotongan yang mendebarkan itu, si pengantin diarak dulu keliling kampung mengenakan pakaian deta megah dengan saluak kecil di kepala.
Menjadi pengantin sunat tak kalah mendebarkan dari pengantin kawin, si bocah menjadi raja sehari, pemegang kuasa untuk diperlakukan khusus, tepatnya dimanja. Raja tanpa ratu. Itulah masa di mana otoritas tunggal mendapatkan waktunya.
Malamnya, demi menghibur bocah yang baru saja mengalami peristiwa menyakitkan yang dilakukan mantri sunat, acara kesenian saluang digelar di rumah. Sementara kawan-kawan sejawat berpantun sampai pagi di atas panggung kecil yang didirikan di depan rumah. Pesta mengantar kawan ke gerbang orang dewasa.
Tapi tak semua anak-anak mendapatkan perlakuan istimewa itu dari orangtua mereka. Aku salah satunya. Waktu itu, aku kelas empat SD catur wulan tiga, bapak secara mendadak menjemputku ke sekolah. Aku yang tengah menuliskan latihan matematika di papan tulis terkejut waktu bapak muncul di pintu kelas. Aku kaget. Ada apa bapak ke sekolah?
“Maaf Ibu Guru, saya mohon izin hari ini membawa Eka ke Padangpanjang,” kata bapak ketika Buk Aisyah, menghampiri bapak di pintu kelas.
“O, iya Bapak. Ada apa ya?” tanya Bu Aisyah. Aku berdebar-debar mendengar bapak menyebut akan membawaku ke Padangpanjang.
Kulihat bapak berbisik pada Bu Aisyah. Bu Aisyah tersenyum.
“O begitu, silakan, Bapak. Mudah-mudahan lancar dan cepat keringnya. Eka bisa belajar lagi.”
Bapak mengajakku makan bakso Si Amin yang sangat lejen itu. Dua mangkok bakso tandas, bapak senyum-senyum melihat aku yang mandi keringat karena kepedasan dengan mulut seperti pantat ayam habis bertelor.
Senang bukan main dimanjakan bapak. Kata bapak, itu hadiah juara catur wulan tigaku. Padahal juara kelasku sejak kelas satu sampai catur wulan dua di kelas empat, tak sekalipun dihadiahi. Tapi apa pentingnya itu dipermasalahkan?
Namun semua ternyata hanyalah akal-akalan seorang bapak demi mengantarkan anaknya ke meja penjagalan mantri sunat.
Kenyang dengan dua mangkok bakso bapak mengajakku ke Rumah Sakit Umum Daerah Padangpanjang. “Kamu harus periksa kesehatanmu, biar cepat besar,” kata bapak.
Sungguh, itu tipu daya yang tak kusadari. Disuap dua mangkok bakso benar-benar membuatku kurang awas. Lalu, terjadilah semuanya. Ujung pusaka nenek moyang kepunyaanku mengirap dilibas mantri sunat!
Gara-gara itu, teman-temanku merengek pada ayah mereka: minta disunat juga. Namun karena tak ingin ada pesta, bapak tidak membawaku kembali ke rumah, di kampung. Bapak menyembunyikan aku di rumah nenek di Gang Aster, Bukit Surungan. Sampai si Eka Junior mengering dan bisa pakai celana lagi. Masalahnya, di kampung setiap ada yang sunat, famili pasti pada datang meskipun tak dimaksudkan merayakannya. Kata bapak di rumah tak ada yang mengurusi, hanya ada kakek dan nenek. Makanya diumpetin di sini.
Setelah semua kelar, seminggu atau dua minggu kemudian, sejumlah temanku tahu-tahu sudah kembali dari meja jagal mantri sunat. Pagi-pagi duduk di pinggir Tabek Busuak. Menjemur punya masing-masing. Duduk berbaris dengan sarung yang bagian depannya harus diangkat agar tak menyentuh area sensitif bekas jahitan. Lalu ketika matahari sudah agak meninggi, bagian bawah sarung diangkat, demi mendapatkan sinar hangat matahari untuk mempercepat proses pengeringan. Hmmmm....hangatnyaaa.....
Kami saling mengintip ke dalam sarung teman. Sekadar membandingkan dengan milik sendiri, atau sekadar memastikan tak ada yang yang berbeda atau tidak terjadi malpraktik.
Seingatku ada juga teman yang agak sedih. Sepertinya dia kecewa dengan hasil kerja mantri. Ia disunat oleh mantri sunat puskesmas yang didatangkan ke rumah, sementara yang lain disunat di RSUD Padangpanjang. Ia mengeluh begitu selesai mengintip ke beberapa sarung.
“Punya kalian bagus-bagus...” suaranya memelas.
Aku tergelak, setahuku, dari melihat punya teman lainnya hasil kerja mantri sunat, semuanya biasa-biasa saja. kenapa dia melihatnya berbeda? Jangan-jangan benar kata Ustad Nusyirwan bahwa kita memang selalu iri melihat punya orang lain. Kita selalu curiga, Tuhan tidak adil, orang lain selalu terlihat lebih baik lalu menyesali apa yang sudah kita miliki. Itulah ciri-ciri orang yang tak pandai bersyukur.
Melihat dia mengeluh, kawan yang lain langsung memanasi-manasi.
“Kudengar mantri sunat kami juga seorang arsitek. Makanya potongan dan jahitannya lebih berseni. Kau lihat kan punyaku?” Ia berkoar sambil mendengus-denguskan hidung, membuat teman yang kecewa tadi makin down.
☕
"Kebahagiaan sama dengan kenyataan dikurangi ekspektasi." - Tom Magliozzi

Bagaimana kisah Anda?
Bagaimana kisah Anda?