Kenangan Masa Kecil (7): Lakon Semba dan Kalau Ditembak Wajib Mati

0

 


Ciloteh/ Oce E Satria

Kekayaan yang dipunyai anak-anak 70 -80an - dan tak dimiliki anak milenial - adalah puluhan permainan seru dan murah meriah. Aneka permainan itu menjadi kesenangan yang tak akan terlupakan seumur hidup, dan selalu ingin kembali mengulanginya. Seluruh permainan anak-anak jadul itu sifatnya kolektif, komunikatif, partisipatif, dan ada nilai-nilai sportifitasnya. Beda dengan anak sekarang. Sekarang anak-anak sebenarnya juga punya permainan. Mereka menyebutnya games. Tapi games berbeda dengan permainan jadul anak zaman dulu. Games bersifat individual, instan, dan cenderung destruktif, karena sejumlah games justru menguras emosi dan penuh kekerasan, kelicikan, dan mengajarkan anak-anak culas. Yang dilawan adalah algoritma yang diciptakan pembuat games. Semacam melawan robot alias mesin. Dan mirisnya, anak-anak bermain dengan robot, sendirian mengurung diri di kamar, atau bersembunyi di warnet. Era 80an ada banyak permainan. Misalnya main cangklong atau congklak. Bisa dimainkan cowok dan cewek. Selain mengasah kemampuan membuat strategi, juga sekaligus sambil belajar berhitung. Ada lagi yang namanya main patok lele, main kasti (di sekolah). Ada juga main taruhan kotak rokok yang masing-masing merek rokok nilainya berbeda. Merek-merek yang beredar di pasaran waktu itu seperti SOOR, KANSAS, COMMODORE, GUDANG GARAM MERAH, JIE SAM SU, ARDAT, WISMILAK, FILTRA, dan lainnya. Merek yang tidak umum dan langka di pasaran – biasanya merek rokok industri rumahan – justru memiliki nilai yang tinggi daripada merek besar yang mudah didapatkan. Semakin langka sebuah merek rokok di pasaran, nilainya semakin tinggi. Sebelum dimainkan, kotak rokok harus dijadikan lipatan segitiga pipih dulu. Cara mainnya, bungkus rokok ditumpuk dan dilempar dengan batu lempeng secara bergantian dalam jarak tertentu. Siapa yang bisa menjatuhkan tumpukan bungkus rokok, dia berhak memiliki bungkus rokok itu. Itulah sisi kreatifnya. Anak-anak menciptakan sendiri mainan dari kotak rokok bekas. Tanpa mengeluarkan duit sepeser pun. Lalu ada main "Ya Oma Ya Oma". Dulu waktu TK dan SD aku sering ikut anak-anak perempuan main ini. Kadang pas jam keluar main, atau sore di TPA menjelang masuk kelas mengaji. Asyik mainnya sambil nyanyi-nyanyi: "Aku ini orang kaya ya oma, ya oma...." Kadang-kadang ada juga teman yang menangis karena selalu masuk kelompok 'kami ini orang miskin', atau terpukul mentalnya saat dapat giliran "pergilah kau Dewi...jangan kembali lagi...🎵" Main Ya Oma itu asyiknya kita berjejer sambil pegang pinggang cewek di depan.😛 Dulu, permainan anak-anak sifatnya musiman, kayak musim buah. Setiap sore kampung ramai karena tiap sudut ada kelompok anak-anak yang main. Tempo beberapa bulan musim kajai alias karet gelang. Lalu beralih musim kelereng. Kadang-kadang musim gambar, yakni potongan-potongan cerita di tv atau radio atau foto-foto artis yang dicetak pada selembar karton. Satu karton itu terdiri dari 30 gambar yang kemudian kita potong-potong. (kayaknya sampai sekarang masih diproduksi, ada dijual di warung-warung). Main kajai alias karet gelang itu juga banyak ragam pertandingannya. Yang jago main dan sering menang biasanya menjalin kajainya kemudian melilitkannya di pinggang. Lalu bertualang mencari lawan ke mana-mana. Itu buat anak laki-laki, sementara bagi anak-anak perempuan kajai hanya bisa buat main tali. Mereka gak punya bakat kompetisi. Kalau tiba musim kelereng, maka tiap hari 4 kantong celana dan baju akan penuh dengan kelereng karena menang main. Apalagi kalau bisa menang banyak, terpaksa bawa kantong kresek. Sampai ke kampung sebelah nyari lawan tanding. Asal jangan bawa kelereng bocet alias rusak. Pulang ke rumah pas magrib dengan baju kotor dan badan penuh daki. Selesai musim kelereng, lalu mulai musim perang-perangan. Kami harus punya pistol atau senapan. Bukan pistol atau senapan mainan yang dijual di toko, tapi pistol bikinan sendiri dari kayu. Diamplas biar licin. Kadang-kadang dikasih merek dengan cat. Ada perang kota, arenanya di tengah kampung. Tapi kalau perang gerilya, harus di semak-semak atau ada pohonnya. Waktu tinggal di asrama dulu, main perang-perangan menjadi favorit. Lucunya - tapi juga positifnya -- dalam perang-perangan kalau kita sudah kena sergap dan "didor" lawan, kita harus roboh. Sebelum menembak musuh, si penembak akan berteriak lebih dulu, " Doorr. Kamu mati!!" Dan jangan protes atau gak mau mati. Wajib mati. Tapi yang paling seru dari seluruh permainan jaman jadul adalah main Lakon Semba. Ini khusus permainan anak laki-laki. Permainan menjaga benteng versus membebaskan teman yang jadi tawanan. Bentengnya hanya berupa lingkaran di tanah yang digaris pakai kayu. Yang kalah suit harus menjaga benteng dan mencari lawan yang ngumpet sampai ketemu. Puncak kenikmatan bermain lakon semba ini adalah, detik-detik kita muncul dari persembunyian secara tiba-tiba dan menyerang benteng untuk membebaskan kawan-kawan yang tertangkap. Bayangkan betapa heroiknya melakukan pembebasan tawanan sembari dari kejauhan anak-anak cewek menonton dengan jantung berdebar. Lain pula seronya dilihat dan diaplaus anak-anak perempuan. Apalagi ada si dia, eehmm.... . Tentulah dia akan tertegun dan kagum menyaksikan prianya menjadi pahlawan. Momen itulah yang selalu bikin ketagihan. Perangai ini dulu disebut MPO (mencari perhatian orang). Sekali waktu, menunggu ustad masuk kelas, aku dan kawan-kawan main lakon semba dulu. Aku termasuk yang menang suit dan boleh bersembunyi. Kemudian, karena ingin mengerjai lawan -si terhukum ini - aku berusaha bersembunyi cukup jauh, di semak-semak di bawah pohon alpukat. Jaraknya lumayan jauh dari masjid, sekitar setengah kilo di sebuah lereng. Sebenarnya aku tak perlu ngumpet sejauh itu, tapi memang aku sok paten. Aku yakin teman itu gak bakal menemukanku. Rasain lo! Namun sialnya, hampir sejam menunggu aku tak juga melihat ada yang mencari. Anjriiiit...! Akhirnya aku mengendap-ngendap mendekati masjid, memantau situasi benteng dan mengatur cara cepat membebaskan tawanan. Tapi begitu melihat halaman masjid sudah sepi, aku baru tersadar dan terperangah. Ternyata orang-orang sudah bubar, semua sudah masuk kelas. Busyet dah! Berarti aku tadi ngumpet sejauh itu tanpa dipedulikan. Akibat terlambat, aku tak dibolehkan ikut mengaji. Diusir keluar. Anak-anak ngakak mentertawakan ketololanku yang sok sok-an heroik. Tak cukup sampai di sana, besoknya ustad menjatuhkan hukuman atas kelakuanku: aku wajib menulis kalimat "Bismillahirrahmaanirraahiin" dengan huruf arab 100 kali di buku tugas! (ngupi yuukk...☕)

Foto: Google


“Hadapkan wajahmu selalu ke arah matahari, sehingga bayangan akan jatuh di belakangmu.” - Walt Whitman

Posting Komentar

0Komentar

Bagaimana kisah Anda?

Bagaimana kisah Anda?

Posting Komentar (0)

Portal StatistikEditor : Oce E Satria

Artikel diterbitkan oleh NostaBlog . Semoga artikel ini bermanfaat. Silakan bagikan ke media sosial Anda atau mengutip dengan menyertakan link artikel ini sebagai sumbernya. Terimaksih sudah membaca. Simak artikel-artikel menarik lainnya

To Top