Ciloteh/Oce E Satria
👣
SOAL mencari uang, aku sudah terbiasa melakukannya sejak kecil, dari SD. Mulai dari memancing lele, jualan es tongtong, sampai berjualan pasir dan batu. Tapi yang menarik adalah pengalaman jualan doorprize. Dulu kami di kampung menyebutnya "pereh pereh". Mungkin dari kata prize.
Pereh-pereh itu hadiah yang didapat pembeli dari nomor undian yang kita jual. Hadiahnya mulai dari permen, mainan, buku, pensil sampai baju kaos. Dibungkus plastik lalu disteples di karton tempat di mana semua hadiah dipajang. Ada juga barang agak mahalan yang dipajang sebagai hadiah. Misalnya singlet dan celana dalam pria merek Hings. Hings adalah merek terkenal di era 80an. Warna CD-nya putih, trus di bagian depannya ada ventilasi diagonal. Aku dulu mikir, kenapa ya harus ada ventilasinya? Kata si Feri Fevendi, temanku yang kaya pengalaman itu, ventilasi berguna untuk sirkulasi udara. "Supaya beliau yang di dalam ndak gerah," kata Feri.
Aku, seperti biasa melongo saja.
Musim jual pereh-pereh ini biasanya ada di bulan puasa. Lapaknya digelar di teras TPA, depan masjid sejak magrib sampai selesai tarawih. Satu nomor undian harganya mulai Rp15 sampai 25 rupiah. Masing-masing nomor ada hadiahnya. Tapi tak semua barang dijadikan hadiah. Barang-barang dengan harga mahal seperti kaos, celana dalam, atau mobil-mobilan dipajang hanya buat pancingan saja, tidak masuk sebagai hadiah. Curang sih.
Tarawih di kampungku -- atau di mana pun -- suasananya pasti sama saja: semarak. Terutama oleh anak-anak yang jadi biang ribut. Tahun 83/84 kalau tak salah, pemerintah melalui Depdikbud dan Depag memerintahkan pelajar membuat buku kegiatan Ramadhan. Terutama wajib mencatat isi ceramah agama yang rutin tiap tarawih. Mungkin maksudnya biar anak-anak tak berkeliaran keluar saat ustad menyampaikan ceramah.
Tapi, seketat-ketatnya pemerintah membuat aturan, rakyat Indonesia lebih lihai lagi mengakalinya. Kami, murid-murid SD tak segampang itu diatur. Banyak cara mencatat ceramah tanpa harus duduk di dalam masjid, misalnya dengan dibantu teman atau mencatat di luar masjid lalu begitu tarawih selesai ikut ramai-ramai mengerubungi pak ustad minta paraf. Atau sekali-sekali malah sengaja tak bikin catatan karena ada godaan besar di luar masjid: main lakon semba. Bagi yang mulai dijangkiti asmara, malam bulan puasa adalah saat ditunggu-tunggu karena ada kesempatan bertemu. Biasanya genk cewek bergerombol di pojok luar masjid, melirik-lirik cowok incarannya.
Yang cowok sibuk keluar masuk masuk masjid agar bisa dilihat oleh satu sosok di antara jamaah di shaf wanita. Mungkin inilah definisi "marede" yang tepat. Jual tampang dan kini disebut tebar pesona. 🤣
Atau komplotan anak laki-laki mengintai anak-anak perempuan di tikungan jalan. Namun seperti biasa, semuanya hanya gareseh aja. Jarang yang berani to the point. Gak berani, gak pede kayak Ebiet:
🎵
Mengapa aku masih duduk di sini..
Sedang kau tepat di depanku..
Mestinya aku berdiri,
berjalan ke depanmu, kusapaa......
dan kunikmati wajahmu....
atau kuisyaratkan cinta....
Tapi semua tak kulakukan...
Kata orang cinta mesti berkorban..."
Suatu kali waktu kelas 6 aku dan teman sekelasku, Boy, sepakat join jualan pereh-pereh di bulan puasa. (teman ini sekarang beliau sudah memangku gelar datuk, seorang datuk penghulu. Di Minang, menurut etika adat, kami tidak boleh lagi memanggil seorang datuk pemangku adat dengan nama kecilnya. Harus dipanggil dengan panggilan "Datuak" kalau sebaya, dan "Angku" atau "Pak Datuak", kalau usia kita lebih muda dari beliau. Itu tata kramanya. Pembahasaan itu tanda kita menghargai posisi beliau. Didahulukan selangkah, ditinggikan seranting, begitu adagium adat).
Kami pun mengumpulkan berbagai hadiah. Lalu ikut menggelar lapak di depan masjid. Sayang usaha joint ventura itu tak berumur panjang. Karena ada pertikaian, dua-duanya (aku dan dia) merajuk entah sebab apa. Kami akhirnya pecah kongsi. Bisnis bubar.
Barang-barang dibagi dua. Bahkan hadiah seperti buku tulis isi 18 harus dibagi dua. Kami sama-sama gak mau diganti uang. Pokoknya harus sama-sama dapat buku tulis itu. Akhirnya buku tulis itu dipotong dua, digunting, separo buat aku, sisanya buat Datuak. Setelah itu kami tak bertegur sapa seminggu kemudian. Perang dingin. Sampai ada mediator yang merekatkan kembali pertemanan kami. Cease fire atau gencatan senjata dilakukan dengan cara saling mengaitkan jari telunjuk. Kami temanan lagi.
Di kampungku dua orang yang musuhan itu istilahnya "bakancaik". Mungkin dari kata "kancaih" - "kanceh" atau malu. Takanceh artinya 'dipermalukan'.
Zaman kanak-kanak dulu bakancaik kadang-kadang ditentukan pula rentang waktunya. Dan dizahirkan: "Den kancaik jo waang lah!" Lalu saling mengaitkan jari kelingking, tanda hubungan bilateral resmi putus. Itu syarat sahnya, pakai kelingking. Kalau baikan pakai telunjuk.
Tapi awas, gak boleh berlama-lama musuhannya. Paling lama seminggu. Karena ada pemahaman di kepala kami bahwa musuhan lebih dari tiga hari itu dosa. Tidak sah shalat kita, sia-sia amal ibadah karena menyimpan sakit hati.
Juga ada hukum tak tertulis bahwa tidak boleh berkancaik dalam bulan puasa. Setelah bulan puasa boleh lanjut. Sama dengan pemahaman bahwa tidak shalat jumat tiga kali jumatan sudah sah menjadi kafir! Tentu kami tak sudi dicap kafir.
(Harusnya kebiasaan seperti itu dipraktikkan sampai dewasa, supaya kita takut tidak bertegur sapa karena berkecilan hati. Eh -- pas ga sih "baketek an ati" diindonesiakan jadi "berkecilan hati"?😁.
Poin moral dari pengalaman masa kecil seperti itu, terbawa sampai usia dewasa. Aku tak pernah mau musuhan dengan orang apalagi membenci karena sakit hati. Karena pernah kubaca artikel bahwa kalau kita menyimpan rasa benci pada orang perorang, gak ada untungnya juga.)
Datuak ini dulu adalah murid pindahan di kelas 5. Setelah bapaknya pensiun sebagai PNS Departemen Pertanian, keluarganya eksodus ke kampung.
Kehadirannya membawa perubahan dalam pergaulan kami. Kalau dulu kami terbiasa membahasakan diri dengan "aden" dan "waang" (lu-gue), tapi Datuak punya kebiasaan membahasakan dirinya dengan "awak", dan memanggil teman dengan nama diri. Kebiasaan itu terbawa sampai sekarang. Pakai aden-waang memang terasa agak kasar, meski sebenarnya menunjukkan kedekatan. Tapi awak kayaknya lebih beradab.😀
Namun, walaupun terbilang murid baru, waktu kelas 6 dia langsung dapat jabatan ketua kelas. Tanpa pemilihan umum!
Ya, waktu itu di hari pertama kelas 6, Wali Kelas Buk Latifah langsung membuat keputusan yang menurutku semena-mena.
Begitu masuk kelas, setelah berbasa-basi sedikit, beliau berkata, "Baiklah, kalian sudah duduk di kelas enam. Ibuk harapkan kalian dapat belajar dengan patuh, dengarkan ibuk bicara dan tidak meribut. Untuk ketua kelas Daherman Boy, Wakil Eka Satria!"
Sesimpel dan secepat itu. Tapi penunjukan langsung itu jelas-jelas melanggar sila keempat:
"kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”.
☕
“Pekerjaan-pekerjaan kecil yg selesai dilakukan lebih baik daripada rencana-rencana besar yang hanya didiskusikan.” - Peter Marshall

Bagaimana kisah Anda?
Bagaimana kisah Anda?