Kenangan Masa Kecil (5): Rizal Couto, Indra Piliang, Komik, dan Cewek

0

 


Ciloteh/Oce E Satria

👣

Waktu itu sore pukul 4. Aku lupa harinya. Kami akan beraksi membobol koperasi sekolah. Sore hari sekolah sudah sepi. Aku dan Feri berangkat dari rumah. Di TKP tanpa mencurigakan, kami masuk lokasi sekolah. Benar sepi. Setelah kami berdua masuk pekarangan sekolah, aku dan Feri langsung menuju belakang gedung. Biar tak mencurigakan, kami pura-pura main oto-oto. Oto-oto itu adalah mobil-mobilan yang kami rakit sendiri, rodanya dari sendal jepit, rangkanya dari bambu, lalu didorong pakai tangkai kikira setengah meter. Kami masuk dengan santai. "Ini, Ka!" kata Feri sambil menunjuk jendela ruang koperasi. Rupanya jendela itu tidak terkunci. Entah dari mana anak ini tahu jendela itu tak dikunci.Mungkin dia sudah melakukan investigasi yang cukup telaten dan intens. Kuakui dia memang punya kompetensi untuk urusan penyelidikan. Ia lalu menyuruhku mengawasi keadaan sekeliling. Melihat kalau-kalau ada orang lewat. Setelah dirasa aman, ia menguak daun jendela, mencopot sendal dan memegangnya dengan gigi, lalu dengan ligat melompat ke dalam. Lantas menyuruhku mengikuti apa yang dilakukannya dengan prosedur yang sama. Yeess...kami sukses masuk. Jendela kembali ditutup. Sebenarnya di dalam tidak ada barang-barang berharga. Tak ada uang atau barang-barang mahal, kecuali permen, biskuit atau peralatan sekolah seperti buku tulis isi 18 keluaran PT Letjes, pensil, serutan, penghapus sampai penggaris kayu 30 cm. Sayangnya kami tak tertarik pada buku, pensil dan alat-alat sekolah. Tidak juga pada biskuit. Kami hanya menyikat beberapa permen. Gula-gula teras alias gulo-gulo tareh alias permen yang dibuat dari gula merah. Itu saja yang kami kantongi. Lalu cabut. Cuma itu. Kami memang bukan tipikal maling rakus. Kami cuma pengen menikmati permen. Syukurlah kami waktu itu selamat tanpa diketahui. Andai saja waktu itu kami kepergok orang, selesai sudah! Kami pasti akan dikonferensiperskan di lapangan upacara Senin pagi. Di hadapan khalayak ramai. Kebayang kan kalo media tahu? "Dua Pelaku Bobol Koperasi Sekolah, Sikat Gulo-Gulo Tareh". Kikira mungkin begitu headline koran SENTANA atau koran SINAR PAGI Minggu, jika wartawannya ada di situ. Kebiasaan anak-anak zaman dulu adalah belajar kelompok. Aku dan kawan-kawanku juga begitu. Kami bikin kelompok belajar di salah satu rumah teman. Kadang pindah-pindah. Malam belajar, sekalian tidur di sana. Kelompok belajar pakai nginap ini bukan hanya anak laki-laki, yang perempuan juga. Mereka punya genk masing-masing. Aku yakin, anak-anak perempuan kerjaannya pasti lebih banyak ngegibahnya dari belajarnya. Dan, apalagi kalau bukan soal cowok 😀. Salah satu rumah tempat belajar bersama adalah rumah Rizal Couto. Kawasan rumah Rizal terkenal dengan sebutan Gank Vigour. Kata Vigour seingatku adalah merek minuman beralkohol yang lumayan familiar di tahun 70an. Konon di gang ini anak-anak muda tahun 70an ngumpul. Dan biasalah anak muda zaman dulu mainannya pasti minum, sampai akhir 70an. Meski begitu, anak-anak muda Gank Vigour dari dulu sampai generasi kami termasuk aktivis-aktivis kampung. Apapun kegiatan di kampung, kami terlibat jadi panitianya. Dari kegiatan remaja masjid, karang taruna, olahraga sampai gotong royong. Kami pionirnya. Di Gank ini isu-isu sosial politik nagari jadi obrolan dan debat setiap hari. Kami cukup intelek. Aku paling lama ngendon di rumah Rizal. Di sana kami sudah merasa seperti di rumah sendiri. Makan minum di sana tiap hari. Aku bahkan sampai tamat SMA masih suka nongkrong di sana. Kelompok belajar kami, selain aku dan Rizal, juga ada Adan, Budi (skrg di Jakarta), Arif (Dumai), Indra dan Indra Jaya Piliang (mantan pengamat politik CSIS dan kini politisi Golkar), Feri, dll. Kecuali aku dan Arif, yang lain sekolah mereka di SD No 2 Aie Angek. Yang selalu kuingat, tiap malam, usai ngerjain PR, selalu ada sesi cerdas cermat, tapi gak pakai hadiah 😂. Hostnya abang si Rizal, da Arwendri (kini guru SMP di Padang Panjang). Pertanyaannya semua dibacakan dari buku HPU (Himpunan Pengetahuan Umum). Karena tiap malam selalu ada cerdas cermat, kami jadi hapal banyak pengetahuan umum dan populer. Aku boleh mengklaim, hampir 80 persen isi buku itu ada di kepalaku. Aku hapal ibukota seluruh provinsi, nama gubernurnya, susunan kabinet, kapan waduk jatilihur diresmikan, dan macam-macam. Sampai jam 9 malam, belajar selesai. Setelah itu kami boleh nonton tv: Dunia dalam Berita. Menikmati berita-berita internasional terkini yang dibacakan Yasir Denhaas atau Anita Rachman. Begitu saja tiap malam. Sesekali aku tidur di rumah Indra Piliang. Dengan si ceking itu, kami sering memasang pancing lele di tabek busuak, telaga yang cukup luas yang ada di tengah kampung. Malam-malam menjelang salat isya kami memasang belasan mata pancing yang ditaruh di bawah enceng gondok di tengah telaga. (waktu itu seluruh permukaan telaga ditutupi enceng gondok, dan baru dibersihkan oleh ratusan mahasiswa KBM Bung Hatta beberapa tahun kemudian) Lokasinya tak jauh dari pohon bareco (semacam beringin) yang terkenal angker. Biar kata orang-orang kampung lokasi itu angker karena banyak hantu si Bujang Hitam-nya, tapi kami gak takut. Untuk sampai ke tengah telaga Indra menaruh batang bambu di atas enceng gondok. Lalu meniti di atasnya, sambil mengaitkan tali pancing, memasukkan mata kail ke dalam telaga, di bawah enceng gondok. Tali pancing diikatkan ke batang bambu. Aku tukang pegang senter. Pancing-pancing itu kembali diambil subuh-subuh. Biasanya kami dapat belasan ikan lele dan langsung dijual. Duitnya buat jajan. Selesai masang pancing, malam-malam kami pulang. Belajar lagi. Tapi kami jarang buka buku pelajaran. Aku dan Indra lebih sering baca komik. Di rumahnya bertumpuk komik-komik Ganesh TH, Jan Mintaraga, Jair, dll. Ada Kho Ping Ho, novel-novel Edy D Iskandar, dan majalah-majalah Deny Manusia Ikan. Walaupun aku beda sekolah, tapi aku lebih sering main dengan anak-anak SD 2, Rizal, dan Indra Piliang. Kami bertiga sering main bareng. Bikin mobil-mobilan yang rodanya dari sendal jepit dan karoserinya dari bambu, baut dan murnya dari karet gelang. Kami mutar-mutar keliling kampung sambil menyetir mobil-mobilan yang setirnya berupa kayu panjang kayak tongsis. Indra Piliang ini tipikal anak serius. Jarang ketawa, apalagi ngakak. Jarang ngomongin cewek. Dia kutu buku tulen. Tak heran kalau besarnya nanti ia jadi penulis, pengamat politik. Beda dengan Rizal. Rizal tipikal anak gaul, ngobrol ngalor-ngidul, suka musik, jago nyanyi, dan.....cewek 😂. Soal dia jago nyanyi terbukti beberapa kali dia tampil di panggung. Misalnya yang kuingat saat dia menyanyikan lagu Nusantara IV, atau lagu Aku Anak Desa-nya Ade Putra. Si Rizal ini juga khatam cengkok dangdut dan Minang. Sementara aku? Jangankan nyanyi, aku kalau batuk pun kadang fales. Dia paling jago mendekati cewek. Ada aja cara dia dan bahan dia untuk bisa mengobrol dan akrab dengan sosialita kelas bocahan. Waktu kelas 6 dia punya affair dengan teman sekelasnya. Sebut saja namanya Bunga (🤣🤣😛). Dan gara-gara bergaul dengan dia aku jadi tambah jauh terjebak dalam urusan cinta monyet. Waktu itu, gara-gara Rizal, aku terjebak lagi dalam kegiatan per-asmara-an. Dia menyodorkan sebuah nama (sebut saja "Mawar"), teman sekelasnya juga, genk-nya si "Bunga" itu. "Kamek!" kata Rizal mencoba memprospekku. Benar sih kamek, putih bersih. Kalau pas musim pacaran gitu (kucing kaliii...musim kawin) hampir tiap malam menjelang tidur kami selalu mendiskusikan soal perempuan. Menginvetarisir cewek-cewek yang jadi nomine cewek idola dan menggibahi mereka. Tapi sampai kami terima STTB, hubunganku dengan anak itu hanya sebatas malu-malu meong. Coba kalau dulu sudah ada hape, pasti urusannya lebih mudah. Tinggal SMS doi, lalu ketik, "Kamu bintangnya apa?" 🤣🤣 sebagai prakata. Aku bela-belain main jauh ke sekolah Rizal hanya demi melihat pajatu. Cuma sekadar liat-liatan. Cuma itu. Gak pernah nembak doi. Berlagak jantan tapi urusan eksekusi lemah. Tapi, sumpah, segitu aja rasanya udah gimanaaa gitu. Persis seperti kata Eddie Silitonga: "🎵Jatuh cinta berjuta rasanya.. Biar siang biar malam terbayang wajahnya... Jatuh cinta berjuta indahnya... Biar hitam biar putih manislah nampaknya... Dia jauh aku cemas tapi hati rindu... Dia dekat aku senang tapi salah tingkah... Dia aktif aku pura-pura jual mahal Dia diam aku cari perhatian oh repotnya...." 🙈 Begitulah, anak-anak masa lalu, masih SD sudah terjangkit loveholic. Mengapa bisa begitu? Mungkinkah gegara nonton filmnya Rano Karno-Yessy Gusman? Atau Terjebak Pergaulan Bebas?


"Jika kamu berpikir kamu terlalu kecil untuk membuat sebuah perubahan, cobalah tidur di ruangan dengan seekor nyamuk." - Dalai Lama


Posting Komentar

0Komentar

Bagaimana kisah Anda?

Bagaimana kisah Anda?

Posting Komentar (0)

Portal StatistikEditor : Oce E Satria

Artikel diterbitkan oleh NostaBlog . Semoga artikel ini bermanfaat. Silakan bagikan ke media sosial Anda atau mengutip dengan menyertakan link artikel ini sebagai sumbernya. Terimaksih sudah membaca. Simak artikel-artikel menarik lainnya

To Top