Kenangan Masa Kecil (10): SMP KOTO LAWEH

0

Ciloteh/ Oce E Satria

👣

Dulu namanya SMP Standar, sekolah negeri yang lokasinya berada di persawahan di wilayah Nagari Koto Laweh, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar.  10 kilometer dari Padang Panjang, atau 2 kilometer dari jalan raya Koto Baru-Padangpanjang.

Waktu aku masuk, berarti aku angkatan ketiga, karena sekolah itu baru lahir pada 1983. Kenapa disebut SMP Standar? Entahlah, mungkin semacam sekolah percontohan.

SMP Standar lalu berubah menjadi SMPN Koto Lawas. Seharusnya sih bukan lawas, tapi laweh. Lawas itu artinya lama, sementara laweh artinya luas. Beda jauh.

Memang kebiasaan orang dan pemerintahan Sumatera Barat sejak dulu salah kaprah untuk selalu mengindonesiakan nama-nama tempat. Aie Angek menjadi Air Angat. Angek itu panas, bukan hangat. Sama dengan Sungai Sariak, lalu diubah menjadi Sungai Sarik. Sariak itu sejenis bambu, sarik itu langka.  Berubah maknanya. 

Di Padang misalnya, Simpang Aru, tau-tau menjadi Simpang Haru. Aru itu artinya kacau/aduk. Sementara haru kan artinya sedih. Aneh kan? Harusnya kalau konsisten diindonesiakan, Simpang Aru akan menjadi Prapatan Kacau. 

Begitulah, kesalahan pengindonesiaan nama tempat di Sumbar. Beruntung Gubernur Sumbar Azwar Anas cepat memintas. Ia meminta penamaan nama tempat dikembalikan sesuai kata aslinya.  Beberapa sudah kembali berubah, namun sebagian masih ada yang masih rancu. Misalnya, kulihat di Tanah Data(r), Batu Sangka(r), atau Parak Jua(r). Coba apa artinya "juar"? Harusnya kan "Jua" artinya jual.

Apakah kesalahan itu terjadi gara-gara buntut kemelut Perang PRRI? Entahlah.

Belakangan pada 2017 Wagub Nasrul Abit mengapungkan lagi wacana pengembalian ejaan nama daerah sesuai aslinya. 

"Kita jajaki dulu sejarah perubahan nama daerah menjadi ejaan Bahasa Indonesia. Kalau memang memungkinkan, kita kembalikan pada ejaan aslinya," kata Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit di Padang, Kamis 12 Oktober 2017.

Nasrul bilang, banyak daerah di Sumbar menggunakan ejaan Bahasa Indonesia. Tapi, artinya tak sesuai dengan nama asli daerah, bahkan ada yang tidak memiliki arti lagi.


***


Hari itu Senin 8 Juli 1985 aku sudah tercatat sebagai murid baru SMPN Koto Laweh, setelah ramai-ramai bareng teman SD melamar. Kami anak-anak 80 an apa-apa memang sendiri, mendaftar sekolah sendiri tanpa ditemani orangtua.

Hari pertama sekolah waktu itu ada acara, namanya penampilan bakat, di hari terakhir ospek (Aku gak terlalu ingat, waktu itu ada ospek gak ya?🤔). .Ada yang nyanyi, baca puisi dsb. Acaranya di lapangan upacara. Nah waktu itu aku dan Indra Piliang berdua ikut. Cuma sekadar dialog dadakan. Mungkin semacam lawakan. Tapi inilah penampilan pertamaku yang membuat kesan buruk wakil kepala sekolah terhadapku.

Ceritanya, waktu itu kami diplot oleh senior, disuruh main sketsa pendek, mungkin sekitar 10 menitan. Dialognya dibuatkan si senior tadi dan kami hapalkan. Tapi dasar aku lugu dan bego, salah satu dialognya Indra bertanya dalam bahasa Batak, "Aha do margamu, Eka?" 

Aku disuruh menjawab pertanyaan itu dengan bahasa Batak juga, salah satunya ada kata "puk**ak*. Waktu itu penonton gerrr. Tapi belakangan aku baru tahu kalimat yang kuucapkan itu artinya kalimat kotor. Bah! Aku tahu setelah dipanggil pak Wakasek, dan diberitahu bahwa kalimat yang kuucapkan tidak sopan. Aku ditanya siapa yang ngajarin. Kujawab saja apa adanya. Untung waktu itu gak ada hukumannya, aku hanya dinasehati, bahwa jangan mau saja dibodohi orang. 🙈🙈

Karena sekolah kami dikelilingi areal persawahan, kami harus melewati sawah saat pergi dan pulang sekolah. Dari rumah ke sekolah jaraknya sekitar dua kilometer, melewati jalan raya, menuruni lembah melintas Batang Aie Kalek (sungai) lalu menyusuri pematang sawah. Bayangkan kalau hujan. Tak jarang kami harus terpeleset di pematang yang licin. Meski baju kotor, tapi sekolah jalan terus.

Waktu kelas dua aku menulis berita tentang buruknya jalan menuju sekolahan. Judulnya "GURU SMP KOTOLAWEH BERSANDAL JEPIT KE SEKOLAH"  dimuat di KMS Singgalang. Itu berita pertama yang kubuat.  Aku belajar menulis berita dari buku karya Rosihan Anwar "Jurnalistik, Publik, dan Media" punya kakakku. Pernah juga di kelas 3  aku membuat liputan panjang satu halaman bersama Eka Vidya Putra adik kelasku. Judulnya "SMP KOTOLAWEH, SPRINTER DI TENGAH SAWAH".

Selama SMP aku memang rajin menulis berita, artikel, cerpen, puisi sampai vignet. Karena gak punya mesin tik, aku numpang mengetik di ruang tata usaha, lalu mengantarnya ke Garuda Foto di Padangpanjang, dan mobil koran akan mengantarnya ke redaksi di Jl Veteran 17 Padang. 

Teman-teman seangkatanku waktu itu ada Budi Putra dari SMP 3 Payakumbuh, belakangan jadi redaktur di Tempo Newsroom dan Country Editor Yahoo! Indonesia. Ada Zakirman Tanjung dari SMAN Sicincin, belakangan jadi wartawan Canang, lalu Yusrizal KW dari SMSR Padang kemudian menjadi sastrawan. Ada Rinaldo dari SMAN Padangpanjang, Sofyardi Bachyul JB dari SMAN  Sungai Limau di Pariaman belakangan jadi jurnalis The Jakarta Post. Rini F Jamrah, Eko Muhardi dan Amrizal Rengganis dari Padang, Yusnal Didi dari Batusangkar, Ulil Amri dari Sarolangun, Jambi, Hendra Yusfi dari Solok, dan banyak lagi. Dan yang fenomenal adalah pak Riswandi Piliang Ilyas guru SMAN Sawahlunto yang rajin menulis di KMS Singgalang. Beliau jadi idola dan panutan kami penulis-penulis muda.

Waktu itulah aku pertama kali dapat surat penggemar. Pengirimnya Deswita, pelajar SMP di Lubuk Sikaping. Kertas suratnya warna biru muda dan ada silhuet bunga-bunganya 😍😍. Waktu membaca pujian-pujian dia di suratnya aku brasa melayang-layang 🤣. Itu surat pertama dalam hidupku yang kuterima dari seorang perempuan. Dia penyuka tulisan-tulisanku. Beberapa kali kami saling berbalas surat. Namun sayang, setelah tamat SMP aku kehilangan kontak dia. 

(capek juga menguras ingatan)


Kisah Berikutnya: Kenangan Masa Kecil (11): Kami Memang Badung

Kisah Sebelumnya: Kenangan Masa Kecil (9): Empat Artis yang Terabaikan


 “Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia.” - Nelson Mandela


Posting Komentar

0Komentar

Bagaimana kisah Anda?

Bagaimana kisah Anda?

Posting Komentar (0)

Portal StatistikEditor : Oce E Satria

Artikel diterbitkan oleh NostaBlog . Semoga artikel ini bermanfaat. Silakan bagikan ke media sosial Anda atau mengutip dengan menyertakan link artikel ini sebagai sumbernya. Terimaksih sudah membaca. Simak artikel-artikel menarik lainnya

To Top