ciloteh/ Oce E Satria
Anak-anak yang hidup tahun 80an atau di bawahnya adalah generasi yang beruntung. Karena pernah merasakan dua zaman yang sangat berbeda. Mereka mengalami era zaman batu (😁) sampai era android dan medsos. Namun, anehnya kini banyak dari mereka yang mengomel-ngomel karena piranti teknologi digital telah memenjarakan mereka dalam kerangkeng rezim online alias dipaksa terhubung dalam jaringan. Terperangkap dalam keterhubungan yang dipaksa.
Setelah dibanding-bandingkan, terasa lebih asyik zaman dulu.
Dulu kita tak punya alat komunikasi, katakanlah henpon dan SMS, yang paling jadul: henpon setebal batu bata. Nyatanya pergaulan di era itu lebih hangat dan nature.
Sekarang? Bahkan di rumah kadang ke toilet HP tetap bawa, khawatir kalau-kalau ada panggilan penting. Begitu terbelenggunya hidup kita. Atau jangan coba-coba matikan HP kalau berada di luaran. Kita pasti akan dicap tak koperatif. Bos akan marah. Teman menuding kita pelit. Istri curigation.
Ada sih televisi. Tapi tahun-tahun 80an itu di kampungku tak semua rumah punya televisi. Hanya ada satu dua. Tivi hitam putih yang dinyalain pakai aki besar yang kalau akinya soak dicas ke pasar Padang Panjang. Ada tivi berwarna, tapi warnanya bukan dari tv-nya, melainkan dari plastik kaca warna warni pelangi yang disangkutkan di depan layar layar. Gitu aja udah paling sip.
Tahun-tahun 80an itu tontonan hanya TVRI. Itu pun acara yang buat anak-anak hanya pukul 4 sore yakni siaran film kartun. Ada Flash Gordon, Defender of Earth, Kumkum, Si Uma, atau tiap hari minggu film Little House on the Prairi. Tokoh favoritnya si cantik Laura.
Sesekali di hari minggu juga ada acara musik, lagu anak-anak: Cicha Kuswoyo, Adi Bing Slamet, Yoan Tanamal dll.
Dulu saking minimnya hiburan, tayangan iklan pun ditunggu-tunggu. Tidak seperti sekarang di mana iklan diselipkan di sela-sela program lain. Waktu itu ada jam khusus tayangan iklan yang diberi nama program "Mana Suka, Siaran Niaga". Cuma setengah jam, TVRI menayangkan semua iklan sekaligus.
Banyak pemirsa yang menikmatinya, juga mengingat jingle iklannya. Misalnya jingle permen "🎵kembang gula Sugus enak raaanyaaa...digemari oleh...tua dan muda..."
Ada juga cerita akhir pekan di TVRI. Yang paling diminati adalah film-film Rano Karno: "Gita Cinta dari SMA" "Puspa Indah Taman Hati" atau "Ranjau-Ranjau Cinta" dll. Kisah cintanya dengan Yessy Gusman atau Lidya Kandou terasa sangat menarik. Kalau habis nonton, berhari-hari setelahmya aku brasa jadi Ranonya 🔨😛. Kita yang masih ingusan akhirnya berfantasi tentang asmara, kepincut pengen pacaran kayak mereka. Aku juga terbius hal-hal itu ketika tau-tau terjebak asmara.
Waktu itu, ketika aku sempat naksir anak kelas 4, cara satu-satunya mengirim pesan asmara adalah dengan hilir mudik di depan kelasnya. Atau pas jam keluar main (dulu jam istirahat itu istilahnya 'keluar main') melirik dia tiap sebentar di kantin sekolah beli kerupuk kuah yang ditaburi bihun.
Kalau diingat-ingat sekarang aku jadi ngakak sendiri, apa sih yang membuat aku naksir dia? Apa yaaaah? Hmmmm...., tapi yang kutahu dia memang beda dari yang lain: manis. Eh, bukankah yang lain juga manis-manis? Entahlah. Cinta memang aneh ya? Kita tidak tahu mengapa rasa itu muncul, tapi kita tahu kapan cinta itu datang dan bagaimana ia mempermainkan perasaan.
Rasa buncah diamuk asmara itu nggak hanya hadir saat berada di sekolah. Tapi bersambung di TPA tempat kami sama-sama mengaji sore sepulang sekolah. Pokoknya kalau ada dia di TPA aku senang.
Kadang-kadang kalau rebutan keluar ruang usai ngaji aku sengaja menyenggol-nyenggolkan badan ke dia. Dia misuh-misuh.
Ketika jam mengaji, sekali-sekali aku curi-curi pandang. Lalu, biar nggak ketahuan oleh teman-teman yang lain, saat duduk di kursi aku sengaja melorotkan badan, lalu mengirim senyum jarak jauh ke dia yang duduk di deretan yang sama di pojok sana di sela-sela punggung teman-teman lain. Di detik itu dia juga melirik ke arahku. Senyumku dibalas manyun dan cibiran dia. Udah, gitu aja. Tapi rasanya udah endaah ajaa..😁🤣.
Pokoknya, sekejam apa pun manyun dia, dia tetap terlihat manis aja.
Umur segitu mana ada rasa malu, ya kan?
Namun aksi diam-diam menyukai dia akhirnya bocor ke publik. Tak hanya teman-teman sekelasku, tapi juga anak-anak kelas dia juga sudah mencium bau busuk ini. Apa boleh buat, impo bahwa aku naksir dia, viral.
Bahkan waktu itu ada yang bikin akronim namaku dan nama dia: ... (A)ku (P)unya (X). Sebenarnya malu juga jadi bahan tertawaan dan dicieee-cieeein... Tapi jujur saja, ada rasa senang diledekin dengan akronim itu.
Sekarang aku baru paham mengapa menjadi korban gosip itu kadang menyenangkan.🤣🤣
Ha ha.....aja aja ada....
Itulah ceritaku di kelas tiga. Di kelas 5 nanti aku sempat juga kepincut cewek lain. Adik kelasku. Tapi affair dengan anak kelas 4 ini hanya berlangsung sebentar saja. Dan lagi-lagi tanpa eksyen. NATO (No Action Titipsalam Only). Waktu itu kami sibuk latihan main drama, menari, dan baca puisi. Selain untuk acara lomba antar SD se-Kecamatan X Koto, juga untuk mengisi acara pentas malam gembira setiap usai lebaran.
Dulu, acara-acara malam hiburan memang betul-betul berisi paket komplit. Gak kayak zaman sekarang yang cuma nyanyi doang diiringi orgen tunggal. Dulu musiknya benar-benar diiringi band lengkap. Acaranya macam-macam. Ada lagu, ada penampilan tari, drama dua babak, dan ini yang paling ditunggu: lelang kue..
Tempat acaranya juga bukan di pentas terbuka. Tapi dalam gedung sekolah. Masyarakat dipungut bayaran kalau mau nonton..
☕
“Kesenangan dalam sebuah pekerjaan membuat kesempurnaan pada hasil yang dicapai.” - Aristoteles

Bagaimana kisah Anda?
Bagaimana kisah Anda?