Ciloteh/ Oce E Satria
👣
KARENA bapak akan pensiun, kami eksodus ke kampung.
Begitu menyelesaikan studi di TK Bhayangkari, aku didaftarkan ke SD di kampung, Aie Angek. Diantar kakakku, Da Eko Yanche yang saat itu sekolah di ST Negeri Padang Panjang, aku didaftarkan ke SD di kampung.
Kalau gak salah, cara penerimaan murid baru tahun 1979 itu masih pakai sistem tangan kanan pegang telinga kiri melewati kepala. 😁. Apakah syarat itu masih berlaku umum waktu itu atau hanya bisa-bisanya Pak Thamrin saja, entahlah. Waktu itu panitianya Pak Thamrin (alm). Aku tak ingat prosedur lainnya dan kata-kata yang diucapkan Pak Thamrin. Yang kuingat, tahu-tahu aku sudah masuk kelas, terlambat dua jam dari murid-murid lain.
Masuk di kelas satu, oleh Bu Asniar (Bu As adalah orangtua teman satu kelasku di Sos4 SMA Padang Panjang, Trinur Alamsyah) aku ditaruh di barisan belakang, ada satu kursi tersisa.
Di situlah, tiga kata nama pemberian bapak berubah selama-lamanya menjadi dua kata. Waktu itu Bu Asniar menyamperi aku ke belakang dengan buku absen di tangan. Beliau menanyakan namaku.
"Namanya siapa?" tanya Bu Asniar.
Aku agak gemetaran. Menunduk malu-malu. "Eka...., Eka Sapta Satria......." jawabku gugup.
Bu As mencatat di buku absennya.
Tapi, rupanya Bu As tidak menangkap dengan jelas kata-kataku. Yang kutahu sejak itu namaku selalu dipanggil Eka Satria. Lho, kemana Sapta-nya? Entahlah. Anehnya aku tak pernah menanyakan sebabnya. Bahkan di kemudian hari di rapor juga ditulis seperti itu.
Bapak mengarang nama yang panjang, Bu As meringkasnya, dan aku memakainya sampai sekarang. 😁
Begitulah administrasi persekolahan zaman dulu. Tak serumit sekarang yang butuh akte, KK dan berbagai tetek bengek lainnya (yaaa..tetek lagi....😛😂). Belakangan aku mikir: apa pihak sekolah tidak menemukan ketidaksamaan nama di administrasi pendaftatan dengan nama di rapor? Jangan-jangan mereka tahu ada yang berbeda, tapi mengabaikan. Mungkin saja ketika ada yang menanyakan di rapat kenaikan kelas, kepala sekolah bilang, "Ya sudah, pakai yang pendek saja."
Kayaknya orang zaman dulu praktis ya? Simpel simpulnya.
Bersekolah zaman dulu, lagi pula di kampung, guru tidak terlalu kepo dan ribet dengan kondisi berpakaian murid-muridnya. Yang penting syarat wajibnya terpenuhi, pakai kemeja putih, celana merah, udah. Selebihnya seterah. Mau pakai topi, kaus kaki dan singlet silakan, gak juga tidak terlalu dipersoalkan.
Kami juga tak punya seragam khusus di hari tertentu. Tidak juga batik. Paling kaos dan celana trening untuk olah raga. Itu pun baru ada di kelas 4.
Bahkan seingatku, sampai aku disunat (naik kelas 5) aku tak pernah pakai kolor.🤣. Apa gak risih yang di dalam? Enggak tuh. Selow aja beliau di dalam. Ga terlalu menganggu.
Meski ga pernah pake kolor, tapi aku selalu juara kelas. (emang hubungannya apa? 😛😂). Nilaiku selalu di atas rata2. Apalagi pelajaran hapalan, nilaiku selalu paling tinggi.
Setiap terima rapor biasanya juara kelas diumumkan di lapangan. Di depan walimurid. Karena di kampung aku tinggal dengan kakek, kakek yang selalu datang ambil rapor.
Tiap kali tampil ke depan sebagai
juara kelas, usai terima hadiah buku tulis, kakek juga ngasih reward. Hadiahnya 10 rupiah. Uang koin Rp10 rupiah yang kuning tembaga? Masih ingat kan? Mayan buat jajan.
Di SD aku lagi-lagi naksir cewek. (kenapa aku gampang naksir yak? Padahal belum akil muktar, eh akil balig). Waktu itu aku kelas 3 dan naksir cewek kelas 4, kakak kelasku. Tapi, yaaa...namanya juga bocah ingusan dan....belum disunat, suka-sukaan itu hanya sebatas itu saja. Ga ada eksyennya. Meski gitu, indahnya bukan main. Tiap liat dia, gimanaaa gitu..... Pernah suatu kali aku ketemu lumayan dekat dengannya. Waktu itu pulang sekolah.
(nyambung lagi)
“Usaha dan keberanian tidak cukup tanpa tujuan dan arah perencanaan” - John F. Kennedy

Bagaimana kisah Anda?
Bagaimana kisah Anda?