Nostalgia SMEA: Siswinya Cantik-Cantik

0


KALAU dulu ada yang bilang sekolah di SMEA itu cuma belajar mengetik, pembukuan, dan surat-menyurat, jelas dia belum pernah merasakan deg-degannya menunggu senyum seorang siswi SMEA dari balik buku agenda.

Ingat SMEA, ingat siswi-siswinya yang cakep-cakep. Gak cuma wajahnya. Penampilan mereka juga enak dilihat. Memang sih, soal penampilan, anak-anak SMEA punya reputasi yang jauh lebih rapi, modis. (mungkin karena mrk diproyeksikan untuk bekerja kantoran). 
Dan—yang paling penting—didominasi oleh siswi-siswi berambut shaggy atau dikuncir dua dengan bando kain yang hits pada masa itu.

Agar kita yang bukan anak SMEA ingin melihat pesona merekax lihatlah saat pulang sekolah. Itu adalah waktu paling dinanti anak SMEA untuk unjuk gaya. Rok abu-abu span yang sedikit ketat di atas pinggang, kaus kaki putih yang sengaja dilipat dua kali di atas mata kaki, dan sepatu kets putih merk Eagle atau Warrior.
Era 80an rok siswi SMEA biasanya panjang sampai bawah lutut. Tapi tahun² 90an mulai naik dikit di atas lutut. Dan ketat pula. 😍.

Satu hal yang paling mudah diingat banyak orang: siswinya!
Bukan berarti siswa laki-lakinya tidak ada. Ada.
Tetapi di banyak SMEA pada masa itu, jumlah siswi memang terasa lebih banyak. 

Dulu, kalau seorang anak laki-laki memilih masuk SMEA, ada dua kemungkinan: memang ingin belajar ekonomi atau karena tahu satu hal yang tidak tertulis di brosur penerimaan siswa baru: siswinya banyak! 😄

Bagi anak laki-laki, masuk SMEA kadang bukan hanya soal memilih jurusan.
Ada bonus pemandangan: cewek-cewek cantik.

Ah, SMEA....

Sekarang kalau kita dengar sebutan "SMEA",  mungkin bagi generasi Z, terdengar seperti nama sekolah dari zaman antah berantah. 

Tetapi bagi mereka yang pernah menjadi siswa Sekolah Menengah Ekonomi Atas, SMEA bukan sekadar tempat menuntut ilmu.
Walaupun industri musik tak kepikiran merilis lagu dgn judul "Nostalgia SMEA" tapi SMEA adalah sebuah dunia dengan bejibun kenangannya sendiri. Ia punya nostalgia sendiri. Mungkin mirip SMA, tapi ada yang khas di sini.

Dunia yang berisi mesin ketik, buku kas, pelajaran pembukuan, seragam sekolah, kantin,  teman sebangku, surat cinta yang dilipat kecil-kecil, sampai kisah cinta yang kadang berakhir sebelum sempat dimulai.

Salah satu suara paling khas sekolah kejuruan ekonomi zaman dulu adalah bunyi mesin ketik. Biasanya merek Brother atau Olympia. Suara bantalan huruf  digeser. Suara kertas ditarik.

Kalau salah mengetik, tidak ada tombol backspace atau delete seperti komputer sekarang.
Salah mengetik satu huruf bisa membuat satu halaman harus diperbaiki. Kadang digunakan tipe-x. Kadang kertasnya diganti.

Dan kalau salahnya sudah terlalu banyak? Ya sudah. Tarik napas, renggut kertas dari bantalan, ambil kertas baru. Mulai lagi.

Anak-anak zaman sekarang mungkin akan heran melihat bagaimana membuat sebuah surat resmi bisa membutuhkan kesabaran luar biasa.

Buku kas, kalkulator, dan angka yang bikin pusing. Bahkan dulu ada pelajaran Steno (teknik menulis cepat ala reporter). Kemudian ada pembukuan. Inilah pelajaran yang membuat kepala terasa lebih berat daripada tas sekolah. Debit, Kredit, Jurnal, Buku besar, Neraca, Kas masuk, Kas keluar, Tabelaris.

Satu kelas bisa berubah menjadi detektif keuangan.
Ada yang mencari kesalahan di buku. Ada yang menghitung ulang. Ada yang menyalahkan kalkulator. Dan biasanya selalu ada satu teman yang dengan santai berkata: "Sudahlah, besok saja dicari."
Padahal besok dikumpulkan.

Yang menarik dari masa SMEA bukan hanya pelajarannya. Ada kehidupan sosial yang tidak tertulis di buku pelajaran. Seperti jamaknya sekolah SMA, SPG atau STM.

Dari cara berjalan di koridor, duduk di kantin, memilih tempat duduk, sampai siapa yang paling sering ditunggu di depan gerbang.

Zaman itu belum ada WhatsApp. Belum ada Instagram. Belum ada story untuk menunjukkan, "Hari ini aku sedang berada di sini."

Kalau mau berkomunikasi, ya bertemu. Atau menulis surat.
Surat cinta zaman dulu punya seni tersendiri. Kertasnya bisa kecil. Lipatannya dibuat sedemikian rupa. Kadang diberi sedikit parfum. Nama penerima ditulis kecil-kecil. Lalu surat itu dititipkan kepada teman.
"Eh, tolong kasih ke dia."
"Jangan bilang dari aku!"
Padahal satu sekolah akhirnya tahu.

Begitulah teknologi informasi zaman dahulu.

Satu surat, satu kurir, satu sekolah tahu.

Pacaran anak SMEA zaman dulu juga tidak seperti sekarang. Tidak ada pesan "lagi apa?" setiap lima menit. Tidak ada video call berjam-jam. Tidak ada saling kirim foto tiap sebentar.

Kadang bertemu saja sudah cukup. Duduk berdua di kantin sudah terasa istimewa. Endahnya bukan main!

Ada pula yang cintanya cuma berani dari kejauhan. Setiap hari melihat. Pengen menyapa.
Tapi begitu orangnya lewat, mulut mendadak kehilangan fungsi.
Akhirnya cuma bisa bilang ke teman:
"Itu dia."
Temannya menjawab:
"Ya, terus?"
Bengong.

Begitulah cinta pertama.

Tidak masuk kurikulum, tetapi pelajarannya paling lama diingat.

Foto kenangan yang jumlahnya sedikit, tetapi berharga. Sekarang satu orang bisa memiliki ribuan foto di henpon.
Dulu?
Satu kegiatan sekolah belum tentu menghasilkan banyak foto.
Kalau ada kamera, biasanya semua langsung berkumpul.
"Foto, foto!"

Semua merapat. Ada yang berdiri paling depan. Ada yang sembunyi di belakang. Ada yang belum siap. Ada yang matanya terpejam.

Tetapi foto itu kemudian disimpan bertahun-tahun. Dan ketika suatu hari ditemukan kembali, kita mendadak terdiam.

Wajah-wajah yang dahulu setiap hari kita lihat ternyata sekarang sudah berubah.
Ada yang rambutnya memutih.
Ada yang sudah menjadi kakek atau nenek.
Ada yang tinggal jauh.
Ada pula yang mungkin sudah tidak ada.

Foto lama akhirnya bukan lagi sekadar foto.
Ia menjadi pintu menuju masa lalu. SMEA dan masa muda yang tidak bisa diulang

Mungkin itulah yang membuat SMEA begitu istimewa.
Bukan karena mesin ketiknya.
Bukan karena buku pembukuannya.
Bukan pula karena seragamnya.
Tetapi karena di sanalah banyak orang menjalani salah satu masa paling sederhana dalam hidupnya.

Kini SMEA di banyak tempat sudah berubah nama menjadi SMK dengan berbagai jurusan dan program keahlian. Maret 1997, seluruh nama sekolah SMEA secara resmi berganti nama menjadi SMK (Sekolah Menengah Kejuruan).

Teknologi berubah. Cara belajar berubah. Mulai tahun 1990 sudah mulai dikenalkan komputer. Makanya dulu banyak anak SMEA ke sekolah bawa disket (flash disk cara lama). Setelah itu mesin ketik digantikan komputer. Buku kas mulai dikerjakan dengan perangkat lunak.
Surat cinta berganti SMS lalu WA. Foto kelas berubah menjadi selfie.

Mata pelajaran juga berubah. Tata Buku sekarang menjadi Akuntansi Keuangan dan Lembaga.
Tata Niaga sekarang menjadi Pemasaran atau Manajemen Pemasaran.
Dan, Tata Usaha sekarang menjadi Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis atau Administrasi Perkantoran.

Tetapi ada satu hal yang tidak berubah: rasa rindu kepada masa ketika hidup terasa sederhana.

Kalau Anda pernah menjadi anak SMEA, mungkin ketika membaca tulisan ini, tiba-tiba teringat nama seseorang.(*)

Oce Satria
☕Kopi Kenangan
Foto: IG banjarnegara.tempodulu

Posting Komentar

0Komentar

Bagaimana kisah Anda?

Bagaimana kisah Anda?

Posting Komentar (0)

Portal StatistikEditor : Oce E Satria

Artikel diterbitkan oleh NostaBlog . Semoga artikel ini bermanfaat. Silakan bagikan ke media sosial Anda atau mengutip dengan menyertakan link artikel ini sebagai sumbernya. Terimaksih sudah membaca. Simak artikel-artikel menarik lainnya

To Top