Kangen Menulis Surat Lagi?

0


Ada yang masih suka nulis surat nggak?

Bukan, bukan surat izin, surat lamaran atau surat-surat resmi lainnya. Yang saya maksud adalah menulis surat sebagai media korespondensi. Siapa pun pernah melalukannya, menulis surfat. Entah itu korespondensi pertemanan, pacaran, antar saudara atau menulis surat untuk orangtua. 

Saya haqqul yakin, kegiatan menulis surat saat ini sudah hampir layak dimasukkan dalam kategori kegiatan langka.

Sejak telepon seluler dengan layanan pesan pendek sudah menjadi bagian keseharian semua orang, nyaris komunikasi antar manusia dilakukan melalui hubungan telepon dan SMS. Dengan SMS, komunikasi memang menjadi sangat cepat dan dekat dan intim. Apalagi sekarang ada banyak barang; bbm, WA dll. Orang tidak perlu lagi repot-repot melakukan prosesi:

1.Beli kertas surat dan amplop.
2.Menulis surat.
3.Menulis ulang (kalau ada kata-kata atau kalimat yang salah atau isinya dirasa nggak pas).
4.Melipat, memasukkan surat ke amplop, menguncinya dengan lem.
5.Ke kantor pos (syukur2 jalan ke kantor pos nggak macet), tapi jangan ke kantor pos di hari libur.
6.Beli perangko.
7.Setor amplop surat dan siap kirim.

Ribet?
Ya!
Tapi sensasinya, entahlah kedisebut, maklumlah hati sedang berbunga, dan disampaikan kata per kata pada Nak Rang tu. Belum lagi mneunggu balasannya...lain pula seronya.
 
Saya ingat bagaimana dulu saya dan pacar saya berkorespondensi ( hehehe…ga enak bener istilahnya). Karena kami bertempat tinggal di Beda Kota Beda Propensi (jalur darat keduanya dihubungkan oleh Bus AKAP alias Antar Kota Antar Propensi), makanya surat menjadi media penyambung tali rasa (...!) yang utama. 

Zaman itu ponsel belom serame sekarang atau ada satu dua tapi kami  tak punya. Saya baru pertama kali pegang handphone, tahun 96an miliknya Uda Hasril Chaniago waktu beliau datang ke rumah.
 
Karena belum ada HP, Sesekali memang bisa ngobrol di wartel. Tapi keseringan ke wartel bisa tandas uang jajan (ketahuan kalau masih di bawah perwalian bapak dan emak). Jadi surat adalah cara cespleng untuk menjalin hubungan: mulai dari proses perkenalan, sedikit gombalisasi, nembak,  sampai merawat cinta bahkan persiapan pernikahan dimatangkan melalui surat.

Surat kami kalau dikumpulkan cukup banyak, bertumpuk-tumpuk dan sekarang masih tersimpan. Satu amplop sekali kirim surat bisa terdiri dari 4 sampai 7 lembar. Apa saja isinya?
Isinya tidak melulu soal cinta. Apapun bisa jadi topik perbincangan, dari urusan perpustakaan masjid, sastra, soal2 minang sampai ngebahas Amien Rais dan konco-konconya. Dari soal dunia sampai urusan akhirat….

Sekarang, setelah bertahun tahun lewat, rasa kangen bersurat-suratan kembali muncul. Kangen merasakan sensasinya lagi….
Apakah bapak ibu sekalian didatangi rasa kangen serupa?


3 Maret 2016
Tags

Posting Komentar

0Komentar

Bagaimana kisah Anda?

Bagaimana kisah Anda?

Posting Komentar (0)

Portal StatistikEditor : Oce E Satria

Artikel diterbitkan oleh NostaBlog . Semoga artikel ini bermanfaat. Silakan bagikan ke media sosial Anda atau mengutip dengan menyertakan link artikel ini sebagai sumbernya. Terimaksih sudah membaca. Simak artikel-artikel menarik lainnya

To Top