![]() |
| Menyiapkan rancangan liputan di bawah tatapan tajam Pak M Nuh Hatumena. [Foto: M Said] |
Pengalaman Mengikuti UKW
Catatan Oce E Satria
“Tiga hari sekali baterai kamera harus di-charge. Ketika tak ada listrik, berarti mulai hari keempat saya cuma membawa besi tua tak berguna.”
Cerita itu diungkapkan Hendro Soebroto, wartawan spesialis liputan perang. Ia mengisahkan tugas peliputan Perang Vietnam.
Pun ketika meliput perang Teluk 1991. Ia tinggal di sebuah hotel di Riyadh. Saat itu ia mencoba menghitung waktu tempuh peluru kendali Scud Irak ke kota itu 8-12 menit, sementara perjalanan dia dari kamar di lantai 3 menuju atap hotel plus penyiapan kamera tak lebih dari 2,5 menit.
Maka, ketika sirene kota berbunyi tanda rudal melesat dari Irak, Hendro masih punya waktu untuk menonton televisi. “Baru pada menit kelima kami menuju atap hotel untuk mengambil gambar”.
Dua setengah menit….!!!!
Kisah Hendro itu teringat kembali saat saya berada dalam ruang uji Uji Kompetensi Wartawan (UKW) angkatan XI di Ballroom Grand Zuri Hotel Dumai pada 14 dan 15 Desember 2018 lalu. Selama menjalani 6 sesi ujian, rezim waktu menjadi hantu menakutkan. Belum lagi ditambah peralatan (laptop, flash disc, printer dll) yang tiba-tiba berulah. Sementara tugas yang diberikan penguji wajib selesai. Kalau tidak, tak lulus.
Sesimpel itu komitmen, sekaligus ancaman penguji kepada kami.
Jangan membayangkan, saat mengerjakan tugas bahan uji -- saya mengikuti kelas utama untuk level redaktur pelaksana hingga pemimpin redaksi -- kami bisa rileks. Meski yang dikerjakan adalah pekerjaan sehari-sehari, tapi ketika disimulasikan di bawah pengawasan ketat dan waktu sempit (tiap sesi 30 menit), semua anggapan itu keliru. Di sini saya betul-betul seperti meliput di lokasi perang dengan peralatan secukupnya. Sementara bom dan matriliur berdentum dan berdesing tiada henti. Musuh mengintai dengan sniper yang sangat canggih. Sementara kantor mendesak agar laporan terkini dan lengkap segera dikirim. Anda yang pernah jadi reporter pasti pernah mengalami hal serupa. Stress bukan main dibuatnya, bisa terkencing-kencing. (teringat saat meliput sidang tipikor Rusli Zainal 2013-2014 silam, dari awal hinga akhir, antara jadwal sidang dan deadline selalu tak pernah rukun). Serupa itulah situasi yang terasa di ruang ujian.
Persiapan Menjelang UKW
Ketika diberitahu kantor bahwa saya termasuk satu dari tujuh wartawan PekanbaruMX yang akan mengikuti UKW di Dumai, saya mulai kasak-kusuk menyiapkan semuanya. Termasuk surat rekomendasi Pemimpin Perusahaan, H Rommy T Abram.
Setelah tetek bengek administrasi selesai, saya fokus mencari referensi soal UKW. Saya mengacak-acak Datuk Gugel, dan membaca berbagai pengalaman para pemred yang sudah mengikutinya. Dari semua kisah yang mereka tulis, kesimpulannya hanya satu: “Tidak perlu tegang, ini kan pekerjaan kita sehari-hari koq”.
Sialnya, usai melahap kisah yang seragam itu insting jurnalis saya tidak bekerja. Insting kecurigaan yang menjadi senjata utama wartawan, tak berfungsi. Saya percaya begitu saja. Saya terjebak dengan kalimat manis “Tidak perlu tegang, ini kan pekerjaan kita sehari-hari koq" tersebut.
“Kalo gitu, gak ada masalah,” pikir saya.
Seharusnya, setelah mendapatkan informasi itu, sebagai wartawan harusnya saya melontarkan pertanyaan, “Benarkah demikian? Mengapa semudah itu? Lalu kenapa ada pemred yang tidak lulus?”
Jawaban dari pertanyaan terlambat itu baru terjawab setelah ujian selesai. Nanti akan saya beberkan apa-apa saja yang akan terjadi pada tiap sesi uji. Anda yang bersiap ikut UKW wajib tahu detail apa saja hal-ikhwal selama ujian berlangsung.
Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang saya ikuti adalah UKW angkatan ke-11, di selenggarakan di Dumai. Di mana PWI Kota Dumai di bawah pimpinan Kambali ditunjuk PWI Riau menjadi tuan rumah. Untuk penyelenggaraan kali ini saya boleh acungi jempol untuk teman-teman pengurus PWI Kota Dumai, tentu saja apresiasi kepada PWI Riau yang diketuai Bang Zum, sapaan familiar Zulmansyah Sekedang. Secara keseluruhan, kegiatan ini berlangsung sukses.
Kamis 13 Desember 2018 kami dari PekanbaruMX bersiap menuju Dumai. Setelah menyelesaikan tugas keredaksian pukul 16.00 WIB saya dan Nofri Yandi (Redpel PekanbaruMX) menunggu kawan-kawan lain. Rombongan MX selain kami berdua ada M Iqbal, Armazi Yendra, Raja Mirza, dan M Said.
Hingga malam pukul 19.00 WIB kami saling berbagi nomor telepon narasumber yang akan ditelepon di hadapan penguji dalam sesi uji Jejaring/Lobby. Sebelumnya saya sudah punya 17 nomor kontak narasumber. Ada 3 lagi yang harus dilengkapi. Malam itu saya telpon Kabid Humas Polda Banten, Kombes Edy Sumaryadi.yang dulu menjabat Kapolres Kampar. Setelah itu saya hubungi juga Narsum lainnya.
Uji jejaring/lobby merupakan bagian mata uji UKW. Di sini wartawan ditest bagaimana kedekatannya dengan narasumber. Narasumber wartawan itu tidak hanya pejabat, akademisi, atau tokoh politik, tetapi bandit terkenal dan muncikari juga bisa. Bahkan point-nya cukup tinggi.
Pemimpin redaksi dianggap lobbynya setingkat gubernur, Kapolda, Ketua DPRD, menteri hingga presiden. Kapolsek boleh saja dimasukkan tetapi nilainya tak setinggi kalau kita bisa bicara dengan Kapolda.
Di tempat teratas saya sengaja susun nama-nama mulai dari level nasional. Ada Irene Putri, mantan jaksa KPK yang menjadi jaksa penuntut untuk terdakwa Setya Novanto dalam kasus e-KTP. Irene berjanji stand by menunggu saya telpon. Saya masukkan juga Febridiansyah, Humas KPK. Berikutnya ada nama Fadlizon, Denny JA, Felix Wanggai, Budiman Sudjatmiko, keempatnya kebetulan satu grup WA dengan saya di WAG Indonesian Writers Club, termasuk Indra J Piliang, Dewa Pakar Partai Golkar dan mantan Cawalkot Kota Pariaman. Indra di hari Sabtu itu sudah ada di Lombok setelah mengunjungi Medan. “Siip, bro!” jawab IJP, yang juga teman SD/SMP saya.
Ada juga nama-nama Ade Hartati, Ketua Fraksi PAN DPRD Riau. “Siap Dinda,” pesan WA-nya. Ada Sahril SH, Ketua DPRD Pekanbru, Zaidir Albaiza Ketua Fraksi PKB, Irvan Herman, Wasekjen DPP PAN, Riko Kurniawan, Koordinator WALHI Riau, Firdaus MT (sayangnya Pak Wali tak mengangkat saat saya coba kontak untuk memastikan kesediaannya, Memang sudah lama sekali tak mengontaknya. Boleh jadi HP Pak Wali hilang dan sekarang pakai nomor baru. Hehe..). Selain itu ada nama-nama Al Amin, owner Amco Group Indonesia, Ade Agung Yulianto, trainer nasional K-13. Bahkan ada nama kakak saya sendiri, Eko Yanche Eddrie, Sekretaris PWI Sumbar. Da Eko saya hubungi dan memberi beberapa tips dan bersedia jadi narsum. “Oke, masukkan saja nama Uda, tapi jangan dari PWI, tulis saja Budayawan/Penulis Buku,” pesannya. Siiip. Eko Yanche Edrie memang aktif di bidang kebudayaan, menulis kolom dan menjadi penulis biografi beberapa tokoh Sumbar dan nasional.
Junaidi Gaffar, Head of Membership Indonesian Publishing Associated juga bersedia ditelpon. Nun di Jayapura, Nazwar SH MH, Kepala KPPBC Type Madya Jayapura juga meng-oke-kan. Lalu Neil Antariksa, Komisioner Bawaslu Riau. Rasanya sudah cukup dan sangat berbobot.
Lama menunggu beberapa kawan, akhirnya kami start dari Graha Pena Riau menjelang tengah malam. Sayang macet yang didominasi oleh truk-truk besar yang mengular membuat perjalanan menjadi melambat. Kondisi jalan pun kurang bagus, lubang di sana-sini, dan jauh dari mulus, terutama di sepanjang jalan di wilayah Kecamatan Pinggir, Bengkalis. Bagaimana mungkin jalan yang digunakan sebagai lalu lintas uang bermiliar-miliar setiap hari ini kondisinya tidak sangat mendukung? Mudah-mudahan kedatangan Jokowi ke Riau besok akan mengubah jalan Pekanbaru- Duri-Dumai bisa mulus, secara Jokowi selalu berbangga-bangga sebagai presiden yang punya concern membangun infrastruktur.
Akhirnya kami sampai di Dumai saat adzan subuh dan menginap di Hotel Superstart. Apa boleh buat, rencana untuk melakukan simulasi gagal malam itu karena kelelahan. Paginya kami baru bisa simulasi rapat redaksi sambil ngopi di lobby hotel, menjelang siang ujian dimulai.
Dapat Penguji Paling Senior dan Streng
Ujian pertama saya bersama lima lainnya di kelompok utama dibriefing lebih dulu oleh penguji M Noeh Hatumena. M Noeh adalah penguji yang menjadi penguji tanpa dites, melainkan ditunjuk langsung Dewan Pers. Mantan Pemred LKBN Antara itu adalah seorang wartawan yang kenyang meliput di wilayah konflik. Ia termasuk satu dari beberapa wartawan yang diselundupkan di kapal Lusitania Expresso dari Lisbon Portugal ke Timor Timur tahun 1992. Lusitania Expresso membawa sekitar 73 aktivis dari 21 negara, 59 wartawan Internasional. Transit di Darwin Aussie dari Vasco Dagama terus berencana membawa VIP (mantan presiden Portugal).
Saya dan teman-teman satu kelompok deg-degan dan cemas mendapat penguji paling senior ini. Orangnya saklek, tegas, pintar, perfeksionis, dan tidak mau kompromi.
Rapat Redaksi, Merencanakan Liputan
Ujian pertama adalah merencanakan liputan. Kami akan menerbitkan koran 8 halaman dengan nama Dumai Raya. Kami memulainya dengan rapat redaksi. Rapat ini terbilang sengit dan lucu, karena semua berebut bicara. Memang keaktifan kita dinilai, jangan diam saja. Setelah rapat, penguji memerintahkan masing-masing kami harus menyiapkan apa-apa saja yang akan menjadi berita di halaman satu, berikut dengan sejumlah alasannya. Semuanya harus dituliskan di laptop masing-masing untuk kemudian diprint.
Di sinilah awal petaka yang nyaris merenggut nyawa saya. Waktu yang diberikan hanya 30 menit. Kami harus berpikir super cepat, menyusunnya dalam betuk kalimat dan mengetikkannya di laptop.
Alhamdulillah saya bisa mengerjakannya, lumayan lancar dan cepat. Namun saat akan menyelesaikan kira-kira 3 atau 4 baris endingnya, di menit ke-23 tiba-tiba “tek!” laptop saya mati. Astaghfirullah....., saya lupa men-save ketikan, lupa pesan nyonya semalam bahwa laptop harus tersambung terus dengan listrik.
Matik aku!!! Tamat riwayatku! Begitu rutuk dalam hati. Pontang panting saya mencari charger laptop di ransel, mencolokkannya dan menunggu laptop nyala.
Dua menit berlalu. Saya hampir putus asa dan nyaris hendak mundur saja. Bayangkan, bagaimana mungkin menyelesaikan tugas ini dengan waktu kasip, 5 menit. Otak kacau, jantung berdentum-dentum, dan sulit menahan kencing saking stressnya. Bagaimana caranya memanggil kembali memori tadi dalam keadaan pikiran kacau? Sangat mustahil.
Tapi mengingat betapa malunya saya pada Pemimpin Umum Pekanbaru MX yang telah mengirim saya ke sini, saya coba meneruskan. Dalam waktu yang cepat itu saya terus saja mengetik ulang, dengan kalimat-kalimat dan pikiran baru. Tentu saja tak bisa memanggil memori 100% apa yang sudah saya tulis sebelumnya. Saya pasrah saja apapun hasilnya. Sementara Pak Nuh Hatumena terus saja berdiri memelototi di belakang saya.
“Dua menit lagi….” suara penguji terasa bagai desingan peluru. Saya kebut mengetik. Meski tak tuntas sesuai yang saya rencanakan, saya lalu menyimpannya di flash disc, mencabut dan berlari ke luar ruang, di mana tiga printer berderet dan diantri peserta lain. Sialnya, file di flash disc bermasalah, tak bisa diedit, karena hasil print, semua tulisan tersambung tanpa spasi. Wah….kacau! Saya makin nervous dan sudah pasrah, di sinilah ajal saya.
Namun saya tetap saja berlari ke dalam, mengambil laptop dan menentengnya ke ruang print. Saya akan print langsung dari laptop. Peserta lain juga bersileweran dengan masalah masing-masing. Ruangan bising dan suasana tegang.
Untunglah, hasil print bisa terbaca. Meski hasil ketikan yang typo tak sempat diedit, tapi secara keseluruhan masih bisa terbaca. Lagi pula diketikan pertama yang gagal itu sudah dibaca Pak Hatumena saat saya mengetiknya.
Sesi pertama terlewati dengan segala haru biru dan kekacauannya. Belakangan saya baru bisa mengambil pelajaran dari pengalaman ini. Bahwa seorang wartawan tidak boleh menyerah sampai detik darah penghabisan, meski nyawa sudah di ujung tanduk. Never Say Die.
Menyusun Halaman Depan
Sesi ini adalah pemred diharuskan menyusun dan merencanakan berita apa yang akan disajikan di halaman depan. Berita apa saja yang akan dijadikan jualan media. Setelah di rapat pertama tadi 8 halaman koran Dumai Raya disusun, kini masing-masing kami diminta menyusun materi . Sesuai rapat redaksi awal, tiga berita akan ada di halaman depan: Harga sembako naik, penangkapan narkoba, dan kedatangan Jokowi ke Riau.
Di sini kita dituntut menyusun topik apa yang akan diangkat jadi headline, apa latar belakang topik, apa latar belakang diangkatnya topik itu, dan kebijakan redaksi mengenai pemberitaan tersebut akan ditujukan untuk apa dan siapa.
Alhamdulillah, sesi ini saya lewati dengan selamat.
Rubrikasi
Setelah rubrik masing-masing dari 8 halaman dibuat, kami diminta membuat rencana liputan per topik. Saya kebagian topik Ekonomi dan Keuangan. Menurut Pak Hatumena, rubrik ini termasuk berat karena kontennya harus berdasar data. Tidak bisa semata-mata memainkan intuisi dan mengandalkan imajinasi seperti di rubrik Life Style.
Semula saya akan mengulas masalah kredit motor dan dampaknya bagi daya beli masyarakat/keluarga
Tapi saya berubah pikiran. Saya putuskan menulis masalah pembangunan pasar modern di bekas pasar tradisional, perseteruan pedagang kecil dan keberpihakan Pemko kepada pedagang bermodal besar. Berhasil.
Mengarahkan Liputan Investigasi
Konon, selama ini banyak wartawan yang tak begitu bisa membedakan apa yang dimaksud dengan liputan investigasi (investigative reporting) dengan liputan berkedalaman (indepth reporting). Pak Nuh ingin kami mahir soal ini.
Kami diminta menjelaskan definisi dan pembedaan kedua jenis liputan ini.
Perintah berikutnya, diminta menerangkan contoh liputan yang pernah kita buat di media masing-masing.
Saya mereview kembali liputan saya tentang pembangunan pasar rakyat di Jalan Purwodadi, yang semula direncanakan menampung PKL Pasar Jongkok. Tapi saya mencium adanya kongkalingkong antara pengelola dengan orang penting di pemerintahan. Intinya ini pembangunan pasar rakyat tidak murni membantu PKL tapi ada aroma bisnis untuk kepentingan perorangan (bisnis penyewaan lapak dan kios).
Sementara untuk indepth reporting saya contohkan liputan saya tahun 2013 tentang tergerusnya peran ekonomi orang Melayu di Kota Pekanbaru.
Sukses.
Tugas berikutnya merumuskan liputan yang diberikan arahan.
Saya menulis tentang rencana liputan praktik prostitusi terselubung berkedok kos-kosan mahasiswa. Di sini harus dijelaskan, berapa reporter yang diturunkan, apa saja yang mesti mereka cari, hingga biaya liputan yang jelas per reporter.
Menulis Features dan Tajuk
Untuk jajaran pimpinan redaksi menulis tajuk adalah keharusan. Di tiap-tiap UKW ujian menulis tajuk juga menjadi sesi tersendiri. Namun Pak Hatumena tidak menugasi kami menulis tajuk. Ia meminta kami menulis features. Topiknya “Membangun Dumai dengan Problematikanya”.
Apa yang saya tahu tentang Dumai? Sangat sedikit. Penguasa Dumai adalah Adi Chandra, wartawan PekanbaruMX di Dumai. Dia pasti lebih mahir soal ini.
Tapi karena Dumai adalah sebuah kota urban, berada di pesisir dan banyak industri di sini, saya sudah bisa membayangkan problem umum yang dihadapi kota-kota seperti itu. Problem saya hanya, tidak ada kontak pejabat atau pihak berwenang dI Dumai yang bisa saya telpon untuk meminta data dan statemen. Untunglah Pak Hatumena membolehkan mencarinya di Google.
Features sepanjang satu sepertiga halaman saya selesaikan 15 menit (saya mempersetankan typo), 5 menit memeriksa dan mengedit. Lantas berlari ke ruang print dan kembali menyerahkan hasilnya ke penguji.
Sesi demi sesi terlewati dengan segala ketegangannya. Sekarang kembali rapat redaksi. Bahan rapat adalah mengevaluasi keseluruhan kegiatan keredaksian hari itu. Kembali adu pendapat dan saling usul dan saran bersileweran. Salah seorang penguji, Katherina M Saukoly tersenyum melihat riuhnya rapat kami. “Waah…… Semangat sekali yaaa….,” celetuknya.
Satu sesi uji lagi, yakni fasilitas jejaring, kami diminta menyerahkan daftar 20 narasumber. Untungnya kali ini say tak disuruh menelpon salah satu nara sumber seperti yang terjadi di kelas-kelas lain. Kata Pak Hatumena setelah melihat daftar narsum saya, “Sudah. Saya percaya Anda punya jejaring.” Begitu saja. Saya kaget dan tentu saja senang.
Selesai.
Saatnya menunggu hasil penilaian.
Sabtu siang itu kami dipanggil satu persatu menghadap penguji. Masing-masing berkas uji diberi angka nilai. Dalam UKW, nilai terendah 70 dan paling tinggi 100. Jika salah satu sesi saja di bawah 70, walaupun sesi lainnya dapat nilai tinggi Anda tidak lulus.
Alhamdulillah rentang nilai saya antara 70 sampai 90. Pak Hatumena menyebut di beberapa sesi Anda terbaik, lalu Anda paling baik. Ia juga mengatakan, “Anda menulis bagus, mengalir dan enak dibaca.” Yesss…..!
Alhamdulillah.
Usai menyebutkan kelulusan. Saya kurang puas dan bertanya, “Pak, kira-kira, apa dan di mana menurut Bapak kelemahan saya?”
Dan jawabnya sungguh membuat saya tersanjung dan melayang: “Anda tidak punya kelemahan. Sudah bagus,”
“Fabiayyi ‘aalaa’i Rabbikumaa Tukadzdzibaan…. Maka nikmat Tuhan kamu yang mana lagi yang kamu dustakan?” ***
Dumai – Pekanbaru
17 Desember 2018

Bagaimana kisah Anda?
Bagaimana kisah Anda?